Virtual Group Discussion Sistem Keterlacakan Komoditas Pala Bersama LIPI

Senin, 14 Juni 2021












 

Foto bersama virtual FGD sistem keterlacakan komoditas pala bersama LIPI - 2021-06-14

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil dan pengekspor pala terbesar di dunia (FAO, 1992; OEC World, 2018), dengan memenuhi kebutuhan pala dunia sebesar 60% (Polpoke, 2018). Tahun 2019 Indonesia merupakan eksportir pala terbesar dengan jumlah ekspor 8.814 ton pala dengan nilai sebesar 85.918,22 ribu USD (World Bank 2019). Saat ini, pala Indonesia menghadapi banyak tuntutan yang cukup besar terutama hambatan perdagangan non tarif (NTM) yang diterapkan oleh Eropa. NTM tersebut berkaitan dengan tata cara produksi dan sistem distribusi pala yang dianggap belum mampu memenuhi beberapa persyaratan yang ditetapkan oleh Eropa.

Berdasarkan permasalahan tersebut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan sebuah penelitian yang merupakan bagian dari satu penelitian bersama mengenai hambatan perdagangan non tarif dari Uni Eropa terhadap empat komoditas primer Indonesia, kelapa sawit, pala, tuna dan udang. Secara khusus penelitian ini melihat salah satu komoditas tersebut yaitu komoditas pala. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk melihat hambatan perdagangan NTM dari Uni Eropa (UE) terhadap komoditas pala Indonesia dalam satu dekade terakhir. NTM pada satu sisi memberikan dampak pada penurunan nilai ekspor Indonesia dan perubahan segmentasi pasar di kawasan tersebut. Kemunculan NTM menjadi sinyal untuk perbaikan fundamental dalam proses produksi dan distribusi komoditas primer Indonesia. Salah satunya adalah tuntutan untuk membangun sistem keterlacakan (traceability) produksi dan distribusi komoditas primer Indonesia.

Berdasarkan kegiatan penelitian tersebut, LIPI mengadakan Focus Group Discussion (FGD) secara virtual dengan judul “Membangun Sistem Keberlanjutan dan Keterlacakan Produksi dan Distribusi Pala Indonesia dalam Perspektif Pemerintah Daerah” pada hari Senin, tanggal 14 Juni 2021. Tujuan dari FGD ini yaitu 1) mendapatkan gambaran pembangunan sistem keterlacakan dan keberlanjutan dalam produksi dan distribusi pala; 2) mendapatkan gambaran tentang relasi yang terbentuk antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat dalam membangun sistem keterlacakan dan keberlanjutan dalam produksi dan distribusi pala; 3) mendapatkan gambaran tentang kemungkinan adanya peran dari pihak lain misalnya sektor swasta dalam membangun sistem keterlacakan dan keberlanjutan dalam produksi dan distribusi pala; 4) mendapatkan gambaran tentang kendala yang dihadapi dalam pembangunan sistem tersebut; 5) mendiskusikan langkah-langkah sinergi yang bisa dimanfaatkan dalam pembangunan sistem keterlacakan dan keberlanjutan produksi dan distribusi pala.

Kegiatan diskusi virtual ini mengundang beberapa narasumber dari pemerintah dan sektor privat yang memiliki kapasitas dalam rantai pasok dan distribusi komoditas pala. Narasumber pertama adalah Bapak Dr. Wawan Sulistiono, SP., MP. yang merupakan Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku Utara. Beliau memaparkan materi tentang varietas pala terbaik dan terkenal yaitu Ternate 1, Tidore 1, Tobelo 1 dan Makian. Varietas pala terbaik yaitu Ternate 1 dan Tidore 1. Ternate 1 memliki bobot basah terberat yaitu 87 gram. Minyak atsiri fuli terbaik yaitu Ternate 1 (14,62%) dan Tidore 1 (14,82%). Sementara minyak atsiri biji tertinggi yaitu varietas Tidore 1 (11,7 %). Selama ini provinsi tertinggi dalam produktivitas pala yaitu Sulawesi Utara dengan jumlah produksi 1,13 ton/hektar. Tantangan utama dalam budidaya pala yaitu mutu biji pala yang keriput dan pecah, proses panen yang dini sehingga pala yang dihasilkan tidak matang, serta banyak pohon pala yang kurang produktif. Berdasarkan tantangan tersebut BPTP telah melakukan kegiatan pengembangan yang meliputi: 1) peningkatan mutu dan kemurnian benih melalui upaya generatif dari PIT tersertifikat serta vegetatif dengan sambung pucuk entres pala PIT; 2) membangun kebun baru (peremajaan) dengan sumber benih unggul asal vegetatif (sambung pucuk) untuk meningkatkan produktivitas; 3) membangun kawasan kebun pala unggul; 4) pendampingan kawasan komoditas pala bekerjasama dalam bidang penelitian/pengkajian dengan pemerintah daerah, universitas dan lembaga penelitian lain;.

Narasumber kedua yaitu Bapak Agus Heriawan, SP., S.Hut., M.Si yang merupakan Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Ketahanan Pangan Halmahera Selatan. Beliau memberikan informasi bahwa Maluku utara menjadi pemasok komoditas pala ekspor yang dikirim ke Surabaya dan Bitung terlebih dahulu. Jika diasumsikan harga biji pala kering Rp. 60.000/kg di tingkat petani, maka potensi ekonomi pala maluku utara pada tahun 2020 mencapai 162 milyar. Pada tahun 2021 diperkirakan terjadi peningkatan. Data hingga Juni 2021 telah mencapai penjualan sebesar 1.775.279 kg dimana meningkat 58% dibandingkan dengan periode data waktu yang sama di tahun 2020. Pemerintah Daerah Maluku Utara telah mendorong upaya keterlacakan produksi dan distribusi pala melalui kelompok tani. Upaya yang dilakukan yaitu pencatatan hasil produksi seperti keterangan waktu panen, keterangan produk dan berat pala. Sedangkan pencatatan distribusi meliputi data nama, alamat pengumpul, waktu panen, berat produk pala hingga persentase kadar air pala. Pemerintah Daerah Maluku Utara telah melakukan kegiatan intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi yang dilakukan meliputi a) pengendalian OPT tanaman pala, b) peningkatan sumber daya petani, c) peremajaan tanaman pala; d) distribusi pupuk dan obat-obatan. Sedangkan kegiatan ekstensifikasi meliputi a) pengadaan bibit tanaman pala; b) bantuan alat pertanian; c) pengembangan dan perluasan lahan tanaman pala.

Narasumber terakhir yaitu Bapak Sigit Ismaryanto, CEO PT. Alam Sari Interbuana. Dalam kegiatan ini Bapak Sigit juga berbicara selaku Stakeholder Engagement Specialist DAKOTA. Pada sesi ini Bapak Sigit bersama tim DAKOTA yang meliputi Yudistira (Quality Assurance Specialist) dan Nurul Purnamasari (Stakeholder Engagement Specialist), menjadi narasumber terkait sistem kontrol kualitas dan ketertelusuran produk pala dari DAKOTA. Tim DAKOTA memaparkan beberapa permasalahan tentang standar pala di pasar global serta meningkatnya notifikasi penolakan produk pala di Eropa karena kualitas yang tidak sesuai standar. Dimana permasalahan tersebut coba dijawab oleh DAKOTA. Dalam sesi ini, Tim DAKOTA mempresentasikan tentang latar belakang munculnya sistem kontrol kualitas dan ketertelusuran DAKOTA, bagaimana DAKOTA bekerja, apa saja fitur yang ditawarkan oleh DAKOTA, dan bagaimana konsep DAKOTA dapat merekam ketertelusuran dan mengakomodir fungsi kontrol kualitas di tingkat petani, serta bagaimana konsep DAKOTA dapat meningkatkan daya tawar petani pala terhadap pasar.



icon Kembali ke menu liputan

Berita Terkait

Inisiasi Pengembangan Sistem Data dan Standar Produksi Kayu Manis

Selengkapnya

DAKOTA Terpilih sebagai “The 30 Most Inspiring Digital Innovations (MIDI) 2020”

Selengkapnya

Pemerintah Provinsi Maluku Utara MoU dengan Penabulu Foundation

Selengkapnya

Demi Standar Mutu Kayu Manis di Kerinci, KPHP Kerinci Jalin Kerja Sama dengan Penabulu

Selengkapnya

Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara Kerja Sama dengan Yayasan Penabulu Foundation Teken MoU

Selengkapnya

Pemprov Malut - Yayasan Penabulu Foundation Tingkatkan Ekspor Komoditi Perkebunan

Selengkapnya

Distan Maluku Utara - Penabulu Foundation Fokus Kembangkan GOSORA

Selengkapnya

DAKOTA Sebagai Respon Terhadap Tuntutan Kebijakan Non-Tariff Measures (NtMs) dari Uni Eropa

Selengkapnya

DAKOTA Sebagai Respon Terhadap Tuntutan Kebijakan Non-Tariff Measures (NtMs) dari Uni Eropa

Selengkapnya